Merdeka (katanya)

Bukan merdeka jika terpenjara pikiran dan perbuatan, bukan merdeka jika bernafas tanpa rasa lega, bukan merdeka jika berjalan tanpa rasa syukur. Merdeka adalah tentang jiwa-jiwa yang hidup, bukan hanya bernyawa tetapi nyatanya mati.


Telah 75 tahun bangsa ini berdiri, merupakan waktu yang cukup panjang bagi negeri ini dalam melewati berbagai dinamika yang ada, 75 merupakan angka yang tidak lagi muda dan cukup matang untuk menjadi sebuah negara maju. Di berbagai daerah beragam acara tak pernah luput digelar masyarakat indonesia untuk memeriahkan kelahiran proklamasi. Tapi, apa makna merdeka itu? Bisa Ikut lomba agustusan? Upload poster dirgahayu di sosial media? Upacara di balai kota? Itu semua hanyalah merdeka secara seremonial bukan secara substantif.


Sejatinya merdeka bukan hanya tentang apa yang dilihat dan diucap, merdeka bukan hanya sebuah narasi atau petuah belaka. kiranya bangsa ini dan rakyatnya sudah terlalu sibuk membangun raga dan fisik. Di saat yang sama, kita lupa membangun jiwa atau batin. Fisik memang sudah bebas, tak terbelenggu macam di zaman Tuanku Imam Bonjol, tetapi kiranya mental masih tertinggal. Ir Soekarno dan para pendiri bangsa lainnya pernah berkata “Manusia yang MERDEKA adalah manusia yang terbebas dari rasa iri, dengki, srei, dahwen, panasten dan patiopen. Sehingga menjadi manusia yang selalu setiti, nastiti, surti dan hati-hati”.”Manusia yang MERDEKA bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BAIK, juga bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BIJAKSANA, tapi adalah manusia yang mampu bersikap BAJIKSANA ”!.


Merdeka adalah saat kita mampu mengembalikan jiwa yang hilang, yaitu kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan toleransi, itu semua lebih penting dari pada sekedar raga yang merdeka. Bukan merdeka jika lebih bangga terhadap budaya dan produk luar, merasa keren menggunakan bahasa asing tetapi lupa bahasa ibu, kagum dengan petandang sedangkan terhadap saudara setanah air bersikap acuh tak acuh dan saling menjatuhkan. Tanah kita tanah kaya, yang sejatinya memanglah negeri surga, namun mengapa penduduknya seakan buta. Kita menginjakan kaki di tanah sendiri, namun kepala menengadah ke langit orang. Kita memang sudah tidak dijajah oleh jepang atau belanda melainkan mental rakyatnya sendiri. Apakah ini yang diinginkan oleh para pejuang kita yang terdahulu? Apakah ini balasannya?. Tapi bukan merdeka namanya jika hanya menyalahkan keadaan, mulai hari ini mari kita bangun Indonesia menjadi sebuah negeri yang maju, bukan hanya sekedar slogan, mari kita jadikan Indonesia sebagai negeri yang benar-benar merdeka, dimulai dari memerdekakan jiwa kita sendiri, lawan egoisme kita karena kemerdekaan yang hakiki ada bagi orang-orang yang ikhlas. Ubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku kita agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Mari kita bakar lagi semangat di balik kata “Merdeka!” dan wujudkan Indonesia menjadi negeri yang adil, bersih dari korupsi, damai, dan demokratis, karena kalo bukan kita oleh siapa lagi negeri ini akan dibawa?

Penulis : Ni Made Cantya, XII OTKP 2

2 thoughts on “Merdeka (katanya)

Tinggalkan Balasan ke Rifki Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori